Membicarakan hal yang sangat susah untuk mendapatkan ujung pembicaraannya. Kualitas pendidikan di Indonesia menurut saya kurang baik. Bagaimana tidak, jika kini dunia pendidikan telah menjadi ladang uang para pejabat – pejabat negara.
Banyak sekali ditemukan sekolah negeri di pelosok – pelosok daerah yang kini roboh dan murid – muridnya harus mengungsi bahkan belajar beratapkan awan dan matahari. Padahal itu sekolah negeri ( sekolah milik negara ). Sekolah – sekolah negeri di ibu kota banyak sekali yang megah, mewah dan sarana – prasarana pembelajarannya lengkap, beda dengan sekolah – sekolah yang dipelosok. Seharusnya dimanapun sekolah itu berada, jikalau itu sekolah negeri, seharusnya mendapatkan pengurusan yang sama. Entah berapa anggaran yang pemerintah anggarkan untuk pendidikan yang konon terlalu kecil belum juga KKNnya. Sangatlah beda dengan sekolah swasta yang bisa mendapatkan dana dari mana saja.
Itulah bukti kurangnya perhatian pemerintah terhadap pendidikan di Indonesia. Padahal pendidikan merupakan investasi terbesar bagi negara kita apabila semua rakyat Indonesia berilmu. Setidak – tidaknya dengan meratanya rakyat yang berilmu, negara kita bisa mengurangi kasus kriminalitas dan pengangguran tiap harinya. “Berilah kail ketimbang ikan”. Mendidik orang miskin lepas dari kemiskinan bukanlah dengan memberi sumbangan uang receh disetiap saat kita bertemu di jalanan. Sumbanglah dengan bekal pendidikan. Kalau pemerintah menyediakan pendidikan dasar (SD-SMU) secara gratis, dan dilakukan secara benar, baik, kontinu, dan konsisten, mudah - mudahan orang yang menggantungkan hidupnya hanya dengan mengemis semakin berkurang.
Memang benar Indonesia cukup pintar, dengan bukti Indonesia sering memenangkan Olimpiade SAINS internasional. Penting sekali untuk kita banggakan. Akan tetapi akankah kita hanya ingin itu saja? Apakah kita tidak inginkan hal lebih untuk negara kita sendiri? Dan hanya orang – orang itu saja yang selalu tampil, kenapa yang lain tidak? Penduduk Indonesia sangatlah banyak. Dan kenapa orang – orang pandai dan pintar di Indonesia dibiarkan saja? Di Singapore saja orang – orang pandai sangatlah diayomi oleh negara, karena menurutnya rakyat pandai dan pintar merupakan asset terpenting yang mereka miliki.
Kembali ke pengajaran sekolah yang dimiliki oleh Indonesia. Pelajaran yang di SD sudah dibahas terkadang di SMP dipelajari kembali dan pelajaran yang di SMP sudah diajarkan masih juga dibahas di SMA maupun SMK bahkan yang yang telah diajarkan di SMA maupun di SMK terkadang juga menjadi mata kuliah dalam perguruan tinggi. Padahal di negara – negara lainnya, mereka dalam memberi pelajaran adalah sesuai dengan perkembangan zaman. Mereka memberi pelajaran tentang apa yang sedang digembar – gemborkan di dunia. Nah kita, hanya berputar di itu – itu saja hanya berganti nama KBK padahal pelajaran sama saja hanya dibolak – balik. Bagaimana Indonesia bisa mengikuti perkembangan zaman jika pengetahuan yang diberikan hanyalah pengetahuan yang standar – standar saja atau disesuaikan umur.
Akan tetapi itu semua bukanlah 100% masalah pemerintah kita peduli atau tidak. Masalahnya rakyat kita terlalu manja. Ada harga yang naik sedikit, protes. Ada yang tidak cocok sedikit, protes. Kita bisanya hanya nuntut. Kita melihat dari perspektif kita sendiri. Masyarakat yang sehat, adalah masyarakat yang bisa berpikir dari dua sudut pandang. Sudut pandang kita, dan sudut pandang negara. Inilah yang terpenting. Banyak anggaran kita yang habis untuk memuaskan rakyat. Contoh, kalau masyarakat tidak banyak protes masalah harga bbm, pemerintah kan tidak perlu tambal sulam begini. Demi memuaskan masyarakat yang ngotot tidak ingin bbm naik, pemerintah sampai memotong anggaran sana sini. Ini yang membuat hanya satu dua bidang menjadi prioritas dan yang lainnya hampir terbelengkalai.
Pendidikan di Indonesia dalam keadaan naik turun berkembangnya. Namun semuanya hanya bisa diukur dari diri kita sendiri. Jika kita merasa bahwa diri kita bisa untuk melakukan hal besar untuk diri kita, masyarakat dan negara pasti kita bisa melakukannya dengan baik dan kualitas pendidikan negara kita yang kita rasakan adalah seperti apa yang sedang kita rasakan saat itu.

