Kebanyakan program sekolah gratis merupakan strategi kilat para kandidat legislatif maupun kepala daerah untuk mendapatkan kursi mereka. Dan sayangnya banyak sekali masyarakat yang termakan olehnya. Oleh karenanya banyak sekali orang tua yang lepas tangan, tidak mau mengeluarkan biaya sepeser pun karena menurutnya segalah hal telah ditanggung oleh pemerintah. Namun pernahkah kita mencari tahu akan cara kerjanya? Lebih banyak keuntungan atau kerugian akan pendidikan yang kita dapatkan?
Padahal karena gratisnya sekolah, membuat sekolah terhambat pengembangan dan pembangunannya akan pencapaian rencana sekolah dalam memberi nilai lebih sekolah. Misal seperti peningkatan sekolah menjadi sekolah nasional, sekolah internasional, sekolah dengan keunggulan tertentu dan lain sebagainya. Dikarenakan kurang bahkan tidak adanya partisipasi orang tua terhadap pendidikan yang meliputi sarana dan prasarana yang digunakan untuk anak mereka bersekolah.
Memang benar dengan adanya program sekolah gratis semua masyarakat yang tidak mampu bisa menyekolahkan anak – anak mereka tanpa biaya. Beban hidup mereka bisa teringankan. Untuk para golongan menengah keatas bisa memungkinkan untuk menabung agar nantinya mereka bisa menyekolahkan anak – anak mereka ke perguruan tinggi setelah tamat SMA maupun SMK. Begitulah dampak positif dari sekolah gratis. Yang mana merupakan keuntungan yang meliputi segi ekonomi saja. Pernahkah kita memikirkan akan kualitas pendidikan yang kita dapatkan secara gratis? Mungkin bagi masyarakat biasa yang hanya memikirkan bagaimana caranya anak mereka bisa pergi ke sekolah tidak pernah memikirkannya. Asal anak mereka pagi berangkat dari rumah dan siangnya kembali ke rumah serta di akhir semester bisa menerima rapot itu sudah cukup. Padahal banyak sekali komposisi pendidikan yang kita dapatkan secara gratis ini yang terkurangi. Contohnya saja di sekolah saya, SMKN 1 GLAGAH di Banyuwangi, komputer – komputer yang terdapat di ruang KKPI semakin lama semakin berkurang, bukan karena adanya kasus kemalingan, akan tetapi semakin lama semakin banyak komputer yang tidak dapat digunakan karena rusak. Pihak sekolah sebenarnya sudah berusaha untuk membetulkan komputer – komputer itu akan tetapi masih ada komputer yang perlu penggantian suku cadang, karena dana yang ada belum mencukupi dan sekolah kesulitan untuk mencari dana akhirnya komputer – komputer itu dibiarkan dan digunakan yang bisa saja. Komputer – komputer yang bisa dipakai jumlahnya kurang dari setengah jumlah murid dalam satu kelas. Hal tersebut sangatlah menghambat pemberian materi yang ada, dengan begitu yang sebenarnya materi dalam satu tahun bisa mencapai 25 bab karena hambatan tersebut mungkin guru hanya bisa memberi 10 – 15 bab saja. Apakah disini guru yang harus dituntut? Tidak juga. Guru telah melakukan tugasnya semaksimal mungkin, akan tetapi karena hambatan yang ada itu juga di luar batas kemampuan guru untuk sesegera mungkin mengatasi, jadi hanyalah partisipasi orang tualah yang bisa membantu masalah ini untuk menemukan jalan keluar.
Karena sempitnya ruang gerak sekolah untuk bisa berkembang dan tumbuh secara cepat, terpaksa sekolah berkembang dan tumbuh dengan sedikit demi sedikit bahkan nihil. Akibatnya juga pasti murid – murid yang merasakan. Bersekolah hanya mengandalkan buku – buku yang ada, susah mempraktikan ilmu yang telah dipelajari.
Seharusnya di samping pemerintah menjalankan program sekolah gratis, pemerintah juga harus bisa mengayomi sekolah – sekolah yang diharuskan gratis. Tidak hanya mencetuskan gratis, namun lepas tangan akan efek pendidikan gratis pada kualitas pendidikan yang ada.
Dilihat dari apa yang saya tulis ini, saya beragumen bahwasanya pendidikan itu lebih baik murah, bukannya gratis. Biaya sekolah yang setara dengan kemampuan orang tua murid untuk membiayai. Dengan murahnya pendidikan akan ada sebercak perubahan yang mungkin terjadi. Partisipasi orang tua bisa terlihat, dan rasa was – was orang tua terhadap sekolah anaknya bisa timbul lebih baik karena orang tua pasti akan menyayangkan apabila anak mereka sekolah dengan tidak baik padahal mereka telah mengeluarkan biaya walaupun itu hanya seperak.
Akan tetapi, semuanya hanya bisa dikembalikan ke individu masing – masing yang meliputi pemerintah dan kabinetnya, pihak sekolah, orang tua murid dan muridnya itu sendiri untuk bisa menyikapi keadaan yang ada. Segala situasi yang baik maupun buruk itu juga merupakan karunia dari Tuhan, hanya saja bagaimana tindakan kita untuk bisa merubahnya menjadi situasi dan kondisi yang seperti kita inginkan.


0 komentar:
Posting Komentar